Sampang ,Dalam rangka memperingati momentum September Hitam, PMII Rayon Halim Perdanakusuma dan PMII Rayon Ismail Makky menyelenggarakan diskusi publik dengan mengangkat tema "Sampang Hitam di Bawah Bayangan Kekerasan Seksual.” Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 135 peserta dari berbagai unsur dan berlangsung dalam suasana tertib, terbuka, serta penuh dengan gagasan dan perspektif mengenai persoalan kekerasan seksual di Kabupaten Sampang (29/09/2026).
Kegiatan ini dikonsep sebagai ruang refleksi dan diskusi publik untuk melihat persoalan kekerasan seksual secara lebih luas. Tidak hanya berbicara mengenai bagaimana pelaku ditindak setelah terjadinya suatu kasus, tetapi juga bagaimana pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat dapat membangun langkah-langkah preventif agar kekerasan seksual dapat dicegah sejak dini.
Kekerasan seksual bukan hanya persoalan penegakan hukum. Ketika sebuah kasus terjadi, terdapat korban yang harus mendapatkan perlindungan, pendampingan, pemulihan, serta jaminan keamanan. Karena itu, penanganan terhadap pelaku harus berjalan beriringan dengan upaya pencegahan dan penguatan sistem perlindungan terhadap masyarakat, khususnya perempuan dan anak.
Dalam diskusi tersebut ditekankan bahwa keberhasilan pemerintah dalam menangani persoalan kekerasan seksual tidak semata-mata dapat dilihat dari seberapa banyak pelaku yang berhasil ditangkap. Penindakan terhadap pelaku tentu merupakan bagian penting dari proses penegakan hukum, tetapi pada saat yang sama pemerintah juga perlu memastikan adanya kebijakan dan program yang mampu mencegah terjadinya kasus kekerasan seksual.
Faisol kerua rayon halim Perdanakusuma mengatan “Keberhasilan pemerintah bukan hanya tentang seberapa banyak pelaku yang berhasil ditangkap, tetapi juga tentang seberapa banyak potensi kekerasan seksual yang berhasil dicegah sebelum terjadi.”
Gagasan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam diskusi. Pemerintah diharapkan tidak hanya hadir ketika sebuah kasus telah terjadi, tetapi juga hadir sebelum terjadinya kasus melalui edukasi, sosialisasi, penguatan perlindungan perempuan dan anak, penciptaan ruang aman, peningkatan kesadaran masyarakat, serta sistem pelaporan dan pendampingan yang mudah diakses oleh korban maupun masyarakat.
Diskusi publik tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dan peserta dari berbagai latar belakang. Kegiatan dihadiri oleh Kanit PPA Polres Sampang serta Kabid P3A Kabupaten Sampang di bawah naungan Dinas Sosial. Selain itu, turut hadir pakar hukum Kabupaten Sampang serta para aktivis perempuan Kabupaten Sampang yang memberikan pandangan dari perspektif hukum, sosial, perlindungan perempuan, serta pengalaman masyarakat sipil dalam melihat persoalan kekerasan seksual.
Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa persoalan kekerasan seksual membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Aparat penegak hukum memiliki peran dalam penanganan dan penegakan hukum, pemerintah memiliki tanggung jawab dalam kebijakan serta perlindungan masyarakat, sementara masyarakat sipil, aktivis perempuan, akademisi, keluarga, dan lingkungan pendidikan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran dan melakukan pencegahan.
Dengan dihadiri sekitar 135 peserta, diskusi ini diharapkan tidak berhenti sebagai forum percakapan semata. Gagasan yang muncul dalam forum tersebut diharapkan dapat menjadi bahan refleksi bersama sekaligus mendorong lahirnya langkah konkret dalam membangun Kabupaten Sampang yang lebih aman bagi perempuan dan anak.
Melalui momentum September Hitam, PMII Rayon Halim Perdanakusuma dan PMII Rayon Ismail Makky ingin menegaskan bahwa mengingat berbagai persoalan kekerasan dan ketidakadilan bukan sekadar kegiatan seremonial. Momentum tersebut harus menjadi ruang untuk melakukan refleksi, menyampaikan kritik secara konstruktif, serta mendorong perubahan terhadap sistem yang masih perlu diperkuat.
Sampang tidak cukup hanya hadir ketika kekerasan seksual telah terjadi. Sampang harus hadir lebih awal—mencegah, melindungi, mendampingi, dan memastikan masyarakat memiliki ruang yang aman.
Sebab, pada akhirnya, ukuran keberhasilan dalam menghadapi kekerasan seksual bukan hanya berapa banyak kasus yang berhasil ditangani setelah terjadi, tetapi juga seberapa kuat sistem pencegahan dibangun agar kasus-kasus tersebut tidak terjadi.
September Hitam menjadi pengingat bahwa pencegahan adalah bagian dari perjuangan, perlindungan adalah tanggung jawab bersama, dan menciptakan ruang aman merupakan pekerjaan yang harus dilakukan secara berkelanjutan.