PortalNews_ Konflik geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang terjadi di kawasan Timur Tengah memberikan dampak besar terhadap perekonomian global. Kawasan tersebut merupakan pusat produksi energi dunia dan jalur perdagangan penting, khususnya melalui Selat Hormuz. Ketika konflik militer meningkat, harga energi global melonjak dan ketidakpastian ekonomi meningkat. Bagi Indonesia yang merupakan negara berkembang dan masih bergantung pada impor energi, perang ini berpotensi memicu berbagai perubahan ekonomi baik secara langsung maupun tidak langsung.
## Kenaikan Harga Minyak Dunia
Salah satu dampak paling cepat dari konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel adalah lonjakan harga minyak dunia. Ketegangan di Timur Tengah mengganggu distribusi energi global, terutama karena sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz. Ketika jalur ini terganggu, harga minyak global dapat meningkat tajam. ([Middle East Monitor][1])
Bahkan dalam beberapa laporan terbaru, harga minyak dunia telah menembus lebih dari 100 dolar per barel akibat gangguan distribusi energi di kawasan tersebut. ([Reuters][2])
Bagi Indonesia yang masih mengimpor minyak, kenaikan harga ini akan meningkatkan biaya energi nasional dan membebani anggaran negara.
## Tekanan terhadap Anggaran Negara (APBN)
Lonjakan harga minyak berdampak langsung terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah harus meningkatkan subsidi bahan bakar dan listrik agar harga energi di dalam negeri tidak melonjak terlalu tinggi.
Setiap kenaikan harga minyak global dapat menambah beban pengeluaran negara secara signifikan. Dalam simulasi ekonomi, kenaikan harga minyak di atas asumsi APBN dapat meningkatkan pengeluaran negara hingga puluhan triliun rupiah. ([Middle East Monitor][1])
Jika harga minyak mencapai 90 dolar per barel atau lebih, defisit anggaran Indonesia dapat meningkat hingga sekitar 3,6% dari Produk Domestik Bruto (PDB). ([The Jakarta Post][3])
Hal ini memaksa pemerintah untuk melakukan penyesuaian anggaran atau menambah utang negara.
## Kenaikan Inflasi dan Harga Barang
Perang juga berdampak pada kenaikan inflasi di Indonesia. Harga energi yang meningkat akan memicu kenaikan biaya transportasi, produksi, dan distribusi barang. Akibatnya, harga kebutuhan pokok dan barang konsumsi masyarakat ikut naik.
Inflasi yang tinggi dapat menurunkan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah dan menengah. Selain itu, biaya logistik global juga meningkat karena risiko keamanan dan gangguan jalur perdagangan internasional. ([Kompas Money][4])
Kondisi ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional.
## Pelemahan Nilai Tukar Rupiah dan Pasar Keuangan
Konflik geopolitik juga memengaruhi stabilitas pasar keuangan. Ketika perang meningkat, investor global cenderung memindahkan dana mereka ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan emas.
Akibatnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar dapat melemah dan pasar saham Indonesia mengalami tekanan. Pada awal eskalasi konflik, indeks saham Indonesia sempat turun dan nilai rupiah melemah terhadap dolar AS. ([amcham.or.id][5])
Pelemahan rupiah ini akan meningkatkan biaya impor dan menambah tekanan inflasi di dalam negeri.
## Dampak terhadap Dunia Usaha
Perusahaan dan industri di Indonesia juga menghadapi risiko akibat konflik ini. Kenaikan harga energi meningkatkan biaya produksi dan operasional perusahaan. Selain itu, ketidakpastian global membuat investasi dan ekspansi bisnis menjadi lebih berhati-hati.
Organisasi pengusaha di Indonesia memperingatkan bahwa konflik IranāASāIsrael dapat meningkatkan risiko inflasi, biaya energi, dan gangguan logistik internasional yang berdampak pada dunia usaha domestik. ([Business Indonesia][6])
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan industri.
## Kesimpulan
Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memiliki dampak ekonomi yang signifikan bagi Indonesia. Dampak tersebut meliputi kenaikan harga minyak dunia, tekanan terhadap APBN, peningkatan inflasi, pelemahan nilai tukar rupiah, serta gangguan terhadap dunia usaha.
Meskipun Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik tersebut, sebagai bagian dari ekonomi global Indonesia tetap merasakan efeknya. Oleh karena itu, pemerintah perlu menyiapkan kebijakan ekonomi yang adaptif dan strategi energi yang lebih mandiri untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi.
[1]: https://www.middleeastmonitor.com/20260303-how-us-israels-war-on-iran-may-impact-indonesias-economy/?utm_source=chatgpt.com "How US-Israelās war on Iran may impact Indonesiaās economy? ā Middle East Monitor"
[2]: https://www.reuters.com/business/energy/barclays-raises-2026-brent-forecast-85-barrel-strait-hormuz-disruption-2026-03-13/?utm_source=chatgpt.com "Barclays raises 2026 Brent forecast to $85 a barrel on Strait of Hormuz disruption"
[3]: https://www.thejakartapost.com/business/2026/03/04/indonesia-to-keep-budget-deficit-below-3-of-gdp-as-middle-east-conflict-lifts-oil-prices.html?utm_source=chatgpt.com "Indonesia to keep budget deficit below 3% of GDP as Middle East conflict lifts oil prices - Economy - The Jakarta Post"
[4]: https://money.kompas.com/read/2025/06/24/102825126/dampak-eskalasi-perang-di-timur-tengah-terhadap-ekonomi-indonesia?utm_source=chatgpt.com "Dampak Eskalasi Perang di Timur Tengah terhadap Ekonomi Indonesia"
[5]: https://www.amcham.or.id/en/news/detail/amcham-update-vol-7-023?utm_source=chatgpt.com "AmCham Update Vol. 7 #023"
[6]: https://business-indonesia.org/news/apindo-iran-u-s-conflict-could-pressure-businesses-through-energy-surge-and-inflation?utm_source=chatgpt.com "APINDO: IranāU.S. Conflict Could Pressure Businesses Through Energy Surge and Inflation"