Teheran / Tel Aviv / Washington, 11 Maret 2026 – Konflik militer antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Serangan rudal, drone, dan operasi udara dilaporkan masih berlangsung di berbagai wilayah Timur Tengah, menimbulkan korban jiwa serta kerusakan infrastruktur militer dan sipil.
Perang ini meningkat setelah Amerika Serikat dan Israel melakukan serangan udara terhadap sejumlah fasilitas militer dan sistem pertahanan Iran pada akhir Februari 2026. Serangan tersebut menargetkan pangkalan militer, fasilitas produksi rudal, serta infrastruktur pertahanan strategis di sekitar ibu kota Iran, Teheran.
Menanggapi serangan tersebut, Iran meluncurkan serangan balasan berupa rudal balistik dan drone ke wilayah Israel. Beberapa kota besar seperti Tel Aviv dan Haifa dilaporkan menjadi target serangan, meskipun sebagian besar rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel.
Selain menargetkan Israel, Iran juga dilaporkan menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Serangan ini menyebabkan sejumlah personel militer AS mengalami luka-luka dan meningkatkan ketegangan antara kedua negara.
Sementara itu, Israel dan Amerika Serikat terus melakukan operasi militer lanjutan dengan serangan udara ke berbagai lokasi di Iran yang diduga menjadi pusat produksi senjata dan penyimpanan rudal. Ledakan besar serta kebakaran dilaporkan terjadi di beberapa wilayah industri di sekitar Teheran.
Konflik ini juga berdampak pada stabilitas kawasan Timur Tengah. Negara-negara Teluk meningkatkan kewaspadaan militer, sementara jalur pelayaran energi penting seperti Selat Hormuz berada dalam pengawasan ketat karena kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak global.
Pengamat internasional memperingatkan bahwa jika konflik ini terus meluas dan melibatkan lebih banyak negara, situasi dapat berkembang menjadi krisis regional yang lebih besar dengan dampak ekonomi global, termasuk lonjakan harga minyak dan ketidakstabilan pasar keuangan dunia.
Hingga saat ini, komunitas internasional melalui berbagai organisasi diplomatik terus mendorong upaya de-eskalasi dan dialog untuk mencegah konflik berkembang menjadi perang yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.